Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Beserta Karakteristiknya


Novel yang bagus adalah novel yang dibangun dengan cermat dan melalui proses yang panjang. Proses yang dimulai dari kerangka dasar sampai proses penulisan naskah. Salah satu proses dasar yang tidak boleh terlewat adalah pemenuhan terhadap unsur-unsur pembangun novel.

Unsur dalam novel dibagi menjadi dua, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Keduanya memiliki porsi dan sub-sub bagian tersendiri dalam novel. Namun keduanya saling berhubungan untuk membangun sebuah cerita.

Bahkan bisa dikatakan bahwa, baik unsur intrinsik maupun ekstrinsik bisa menentukan kualitas cerita yang dihasilkan. Supaya lebih jelas, unsur intrinsik dan ekstrinsik novel akan dibahas satu per satu.

Unsur Intrinsik Novel

Unsur intrinsik novel merupakan unsur utama yang membangun novel dari dalam. Bisa dikatakan bahwa unsur intrinsik adalah unsur dalam cerita itu sendiri. Unsur tersebut tidak hanya satu, namuan ada banyak. Ada beberapa sub bagian yang mempunyai porsi tersendiri.

1. Tema

  • Tema merupakan ide atau gagasan utama dari sebuah novel. Tema berisikan gambaran luas tentang kisah yang akan diangkat sebagai cerita dalam novel. Sehingga sangat penting untuk memikirkan tema yang tepat sebelum memulai menulis novel. Sebab tema yang kuat akan menghasilkan cerita yang cerkas dan fokus.

2. Tokoh / Penokohan

  • Tokoh adalah seseorang yang menjadi pelaku dalam sebuah novel. Sedangkan penokohan merupakan watak atau karakter dari tokoh yang ada dalam cerita novel.
    Berdasarkan jenis watak, tokoh bisa dibagi menjadi tiga kategori, yakni:

    • Tokoh Protagonis, tokoh yang menjadi pusat dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai sosok yang baik dan biasanya selalu mendapatkan masalah.
    • Tokoh Antagonis, tokoh yang menjadi lawan dari tokoh utama dalam cerita. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang tidak bersahabat dan selalu membuat konflik.
    • Tokoh Tritagonis, tokoh yang menjadi penengah antara tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok yang netral, kadang bisa berpihak pada protagonis, kadang pada antagonis. Namun ketika keduanya terlibat dalam konflik, dia menjadi pelerai.
  • Tokoh-tokoh tersebut biasanya dideskripsikan berdasarkan detail penokohan yang dibuat oleh penulis. Deskripsi tersebut nantinya bisa digunakan untuk menerangkan ciri fisik, tingkahlaku, cara pandang atau kehidupan sosialnya. Dalam penyampaian deskripsi, ada beberapa cara yang umum digunakan, misalnya:
    • Disampaikan melalui narasi dalam paragraf.
    • Disisipkan dalam dialog-dialog antar tokoh maupun dialog dengan diri sendiri.
    • Dimasukkan dalam alur melalui konflik demi konflik.
    • Diterangkan berdasarkan latar yang ada dalam novel tersebut.

3. Alur / Plot

Alur / plot merupakan kepingan-kepingan peristiwa yang nantinya akan membentuk jalannya cerita dalam novel. Umunya, alur dalam novel dibedakan menjadi 2 macam, yakni alur maju (progresif) dan alur mundur (flashback).

  • Alur maju (progresif) adalah alur yang peristiwa didalamya bergerak secara urut (awal-akhir)dan memiliki jalan cerita yang rapi. Biasanya alur ini digunakan pada novel biografi dan autobiografi.
  • Alur mundur (flashback) merupakan alur yang peristiwa didalamnya bergerak secara loncat (awal-akhir-awal-akhir)dan terkadang tidak rapi. Biasanya alur ini digunakan untuk novel misteri atau novel fantasi.

4. Latar/Setting

Latar / setting adalah gambaran tentang peristi-peristiwa yang ada dalam cerita. Latar termasuk unsur pembangun cerita yang vital. Keberadaannya sangat penting untuk membangun suasana dalam cerita. Latar sendiri dibagi menjadi beberapa macam, yakni:

  • Waktu, masa dimana cerita sedang berlangsung. Waktu bisa diterangkan secara garis besar maupun secara mendetail. Secara garis besar misalnya, musim hujan, tahun 2016, siang hari dan sebagainya. Sedangkan secara mendetail bisa tahun berapa, di bulan apa, hari apa, tanggal jam, meni detik dan seterusnya.
  • Tempat, adalah lokasi dimana cerita sedang berlansung. Sama seperti waktu, tempat juga bisa digambarkan umum atau khusus. Secara umum misalnya, di restoran, pantai, gunung dan sebagainya. Khusus, misalnya restoran italia dengan gaya retro diujung jalan dan seterusnya.
  • Sosial budaya, maksudnya adalah pergaulan yang secara status sosialnya. Biasanya berkaitan dengan latar tempat. Sebab status sosial sangat erat dengan tempat bergaul.
  • Keadaan lingkungan, lingkungan sang tokoh dalam cerita akan memunculkan konflik batin dalam jalannya cerita. Sehingga peran latar keadaan lingkungan ini juga berdampak besar bagi tokoh / penokohan.
  • Suasana, yang dimaksud sebagai suasana adalah kondisi latar secara keseluruhan dan juga emosi sang tokoh.

5. Sudut Pandang / Point of View

Sudut pandang merupakan cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita. Bisa juga diartikan sebagai cara pandang seorang pengarang dalam menyampaikan cerita novelnya. Sudut pandang sendiri bisa dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  • Sudut pandang orang ketiga – serba tahu. Sudut pandang ini menempatkan sang pengarang menjadi pelaku cerita dan sekaligus penciptanya. Sehingga pengarang bisa memngarahkan, membuat, mengomentari bahkan berdialog dalam cerita. Bisa dibilang posisi ini adalah posisi paling bebas sebebas-bebasnya.
  • Sudut pandang orang ketiga – sebagai pengamat. Sudut pandang ini menempatkan sang pengarang hanya sebagai pengamat cerita saja. Sehingga pengarang hanya akan menyampaikan apa yang dilihat, dirasakan, didengar dan disimpulkannya dalam cerita saja. Dengan kata lain, posisi pengarang terbatas meskipun ada dalam cerita.
  • Sudut pandang orang pertama – sebagai pelaku utama. Pengarang dalam sudut pandang ini berperan sebagai tokoh utama dalam cerita. Sehingga apa yang diceratakannya adalah pengalaman yang dirasakannya di dalam cerita. Karena orang pertama dan pelaku cerita, kalimat yang diutarakan kebanyakan dalam bentuk aktif. Di posisi ini, pengarang melepaskan ekpresinya secara bebas.
  • Sudut pandang orang pertama – sebagai pelaku sampingan. Posisi dari pengarang dalam cerita ini adalah sebagai pelaku diluar tokoh utama. Tugasnya sebagai pencerita apa yang dilihatnya dari pelaku utama dan apa tanggapannya pada situasi tersebut. Sehingga pengarang disini berperan ganda. Namun posisinya sebagai pencerita cenderung terbatas, karena sebagian besar bercerita tentang tokoh utama.

6. Gaya Bahasa

Gaya bahasa termasuk unsur yang penting sebagai faktor pemicu minat baca. Cerita yang dibuka dengan gaya bahasa menarik, indah dan memikat sangat diharapkan oleh sebagian besar pembaca. Bahkan bisa dikatakan, gaya bahasa adalah senjata utama pengarang untuk menghidupkan cerita. Menurut jenisnya, gaya bahasa dapat dibedakan menjadi:

  • Personifikasi. Gaya bahasa yang menerangkan tentang benda mati seolah-olah hidup dan mempunyai sifat-sifat seperti manusia.
  • Simile. Gaya bahasa ini menerangkan segala sesuatu dengan perumpamaan.
  • Hiperbola. Gaya bahasa yang menerangkan sesuatu dengan cara berlebihan dengan tujuan untuk memberikan efek yang bombastis.

7. Amanat

Amanat merupakan pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui cerita dalam novel. Amanat bisa berupa kritik sosial, ajakan, protes, dan lain sebagainya. Amanat umumnya diibagi menjadi dua:

  • Tersurat. Amanat yang pesannya disampaikan secara langsung sehingga bisa dicerna seketika.
  • Tersirat. Amanat yang pesannya disampaikan secara tersembunyi sehingga terkadang susah untuk dicerna seketika itu juga.

Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik novel adalah unsur yang membangun novel dari luar. Biasanya bisa berupa latar pribadi penulis maupun nilai-nilai dari luar. Unsur tersebut umunya adalah:

  • Biografi dan latar belakang penulis. Dimana dia tinggal, latar belakang pendidikannya apa, keluarganya, lingkungannya, dan sebagainya.
  • Kisah dibalik layar. Kisah ini biasanya dilatari oleh pengalaman, kesan atau juga harapan dan cita-cita sang pengarang.
  • Nilai yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai ini sering diangkat oleh pengarang dalam ceritanya. Bisa nilai ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Artikel Berkait

29 thoughts on “Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel Beserta Karakteristiknya

  1. jika saya ingin menulis namun tema yang saya angkat sangat sentimentil dikalangan masyarakat indonesia, apa yang harus saya lakukan untuk mengembangkan cerita tsb? karena begitu banyak hambatan terkait tema yang saya pilih. terimakasih ^^

    • Dikalangan penulis sastra sendiri, tema atau isu sensitif bukanlah hal yang baru dan tabu untuk diangkat. Bahkan sejak dulu sudah ada hal-hal seperti itu. Jadi tinggal kita sebagai penulisnya saja yang mau, berani, dan sanggup tidak menuliskan isu atau tema tersebut.

      Kedua, biasanya untuk isu tertentu sangat menjadi perhatian di meja redaksi untuk enerbit tertentu. Karena tidak semua penerbit mau menerima dan menerbitkan naskah sensitif. Apalagi naskah yang isu sensitifnya ditulis secara tersurat dan terang-terangan menyerangpemikiran atau nilai tertentu. Jadi pastikan sebelum kamu memutuskan menulisnya, cari tahu, adakah kira-kira penerbit yang mau menerima dan menerbitkan nakahmu nanti.

    • Kalau menemui banyak halangan namun sangat berhasrat menulis tema yang agak sentimentil tersebut, ada baiknya si penulis menggunakan “nama pena” saja. Dengan demikian, beban yang menghantui si penulis niscaya berkurang & membantu merileksasi si penulis dalam berkarya.

  2. intrupsi: pesan yang tersembunyi itu tersirat bukan tersurat 🙂

    • Yup, benar sekali, terimakasih sudah dikoreksi. Ada salah ketik sedikit. 😀

  3. Saat mencoba menulis novel, saya kesulitan menentukan paragraf. Jadi saya tidak tahu kalimat mana yang seharusnya jadi satu paragraf, dan kalimat mana yang harus dipisah (jadi paragraf baru). Apa yang harus saya lakukan agar bisa menentukan paragraf dengan benar? Apakah editor bersedia memperbaiki apabila dalam penulisan novel terdapat banyak kesalahan penentuan paragraf. Mohon bimbingannya. Terimakasih

    • Dalam satu paragraf terdapat satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Jadi setelah kalimat utama selesai dijelaskan dengan beberapa kalimat penjelas, itu artinya kamu harus berpindah ke paragraf baru dengan kalimat utama baru yang akan kemu jelaskan kemudian. Paragraf baru dengan kalimat utama baru tidak berarti saling berlainan, justru antar paragraf harus saling berkaitan.

      Tugas editor bukan memperbaiki masalah paragraf, tugas editor adalah melakukan koreksi terhadap ejaan dan standar penulisan yang sudah ditetapkan. Jadi memisahkan paragraf adalah tugas penulis secara personal.

  4. Saya kebingungan ketika akan menulis,bagaimana cara memulai sebuah kalimat pembuka apakah harus dengan kalimat di suatu hari ataukah dengan kalimat yang lain.
    Mohon penjelasannya

    • Tidak harus. Kamu bisa membukanya dengan deskripsi, percakapan atau konflik. Pilih salah satu diantara ketiga hal tersebut. Jika kamu ingin memulai dengan deskripsi keadaan dan situasi di cerita itu, pastikan tokoh utama memulainya dengan menghadirkan konflik yang tiba-tiba (bisa konflik kecil, bisa konflik besar). Pembaca akan tertarik jika disuguhi rasa penasaran atau pemaparan memikat di awal cerita dari konflik tersebut. Setelah itu barulah satu persatu benang merah dimunculkan.

  5. kalo pembuatan novel, biasanya ada berapa halaman yah baru bisa di loloskan

    • Lolos tidaknya tidak bergantung pada jumlah halaman, tapi kualitas cerita dan kesesuaian dengan selera pembbaca. Tetapi prasyarat awal untuk novel bisa dipertimbangkan adalah naskah novel dengan tebal minimal 100 halaman.

  6. Assalamualaikum Wr. Wb

    Saya sudah menulis novel, tapi pas saya baca, saya bingung. Karena cerita saya itu cuman berputar disitu situ saja. Apa boleh minta saran?
    Terimakasih sebelumnya

  7. 1,2,3,5,6,7,8 ??
    4 nya mana mas 😀

    • Wah, iya. Saking fokusnya sampai lupa terlewat. Nanti diperbaiki. 🙂
      Setelah sekian banyak dibaca orang, baru kamu yang menemukan angka 4 nya terlewat.

  8. terimakasih untuk penjelasnya………,

    • Sama-sama, semoga lekas diselesaikan naskah novelnya. 🙂

  9. Mau nanya jika dalam novel terdapat karakter berandalan,jadi agar memperdalam karakter d gunakan kata “gua,lo,tak(tidak),nggak,”apakah itu tidak masalah?apa masih sesuai EYD?

    • Tentu saja tidak jadi masalah. EYD yang dimaksud bukan struktur kata baku atau tidak bakunya, tetapi aturan penulisannya, ejaannya, tanda baca, bukan bahasanya. Jadi bahasa gau tetap boleh dipakai.

        • Sama-sama. Semoga lekas diterbitkan naskah novelnya. 🙂

  10. Teori yg dikutip diartikel itu memuat teori dari siapa dan buku apa ya?

    • Teori yang dimaksud yang mana?

  11. Maaf tanya ya mas
    Apakah semua cerita dalam novel harus ada tokoh Antagonisnya?
    untuk membuat konflik kan tidak harus ada tokoh Antagonis..

    • Tidak harus. Ada yang menampilkan tokoh antagonis didalamnya ada juga yang tidak ada tokoh antagonisnya sama sekali.

  12. selamat siang, artikel unsur intrinsik dan ekstrinsik sangat membantu saya dalam membuat novel sebagai pemula. adapun pertanyaan saya di penentuan sudut pandang, pada saat saya selesai membaca artikel ini saya mencoba menkategorikan beberapa novel saya di sudut pandang orang ketiga dan sudut pandang orang pertama. setelah saya selesai membuat daftar tersebut , tereliye kebanyakan menggunakan sudut pandang orang ketiga sedangkan penulis barat seperti jostein gaarder menggunakan sudup pandang orang pertama. pertanyaan nya apa kelebihan dan kekurangan dari masing masing kedua sudut pandnag tersebut?

    • Sebenarnya sama. Hanya masalah penggunaannya saja. Tentu saja disesuaikan dengan kepentingan si penulis. Apakah ingin menyampaikan kisah berdasarkan apa yang ia rasakan (orang pertama) atau apa yang ia amati (orang ketiga).

  13. Mau nanya kalau mengirim naskah apakah harus sudah dalam editan

    • Naskah yang dikirim ke penerbit sebaiknya sudah diedit dan dirapikan seperti novel cetakan. Kalau tidak maka kecil kemungkinan naskah akan dipertimbangkan oleh editor.

Leave a Comment